Belakangan ini makin sering nemuin ujaran kebencian di sosial media. Ramai dikolom komentar, postingan menyerang subjek, berisik dengan caranyanya masing-masing. Marah, tidak suka, terluka, tersinggung menurutku itu sangat manusiawi. Setelah itu menyerang personal, mengajak benci, melempar ujaran yang sudah tidak relevan lagi dengan apa yang dilakukan oleh sesuatu yang dibenci tersebut. Membuat aku jadi bingung, sebenarnya kenapa mereka bisa sebenci itu kepada seseorang atau sesuatu hal?

Menurut Merriam Webster, “Hate is intense hostility and aversion usually deriving from fear, anger, or sense of injury”. Dikutip dari akun youtube konten creator Gita Savitri, marah punya emotivisional goal untuk mengubah target dengan cara menyerang secara verbal atau fisik. Kalau target tersebut berubah, rasa marah bisa berkurang bahkan hilang. Sedangkan rasa benci, jika objek yang dibenci sudah berubah/sudah melakukan hal positif, rasa benci ini tidak hilang. Terkadang kita benci terhadap seseorang bukan karena apa yang dia lakukan tapi karena orangnya aja, bahkan bisa jadi gak perlu koneksi personal atau orang yang gak kita kenal. Tanpa sadar kita ingin lihat mereka hancur dan gagal, lalu naik tingkat ingin menghancurkan reputasi, mempermalukan, ekstrimnya ingin menyakiti sampai membunuh. Ketika kita bertemu orang lain yang sama-sama membenci objek yang sama. Berdasarkan riset hal itu bisa menciptakan ikatan yang yang kuat karena hal negatif bisa dianggap membentuk kerentanan. Dengan berbagi emosi negatif ini kita bisa memperkuat feeling of collective victimhood yang menyebabkan rasa benci itu jadi lebih intens lagi.

Berdasarkan Piramid of hate ada 5 level kebencian yaitu:

1. Make of Bias

Pada dasar piramida, tingkat terendah menggunakan pandangan bias dengan menyebarkan rumor yang belum pasti kebenarannya, mencari orang-orang yang memiliki kebencian yang sama untuk mendapatkan pembenaran, cuma mau menerima informasi negatif daripada informasi positifnya.

2. Indiviual acts of prejudice

Tingkat kedua melibatkan tindakan prasangka individual dengan menyebarkan ujaran kebencian, perundungan, penghindaran secara sosial, mengejek sampai mengumpat.

3. Discrimination

Tingkat ketiga, melibatkan diskriminasi yang disengaja dengan membatasi ruang gerak. Mencegah orang-orang dari kelompok tertentu memiliki akses yang sama dalam hal pekerjaan, pendidikan, politik, ekonomi dan perdilan pidana. Hal ini sudah melampaui ketidakadilan dan merebut hak asasi manusia.

4. Bias motivated violence

Tingkat keempat meningkat sampai melakukan aksi kekerasan. Individu dapat diserang atau diancam dengan kekerasan, bahkan meningkat menjadi pembunuhan, pemerkosaan, bahkan sampai pada tindakan teroris.

5. Genocide

Pada tingkat tertinggi tindakan dilakukan dengan sengaja dan sistematis untuk memusnahkan semua orang.

Empat hal ini bisa menjadi penyebab tumbuhnya kebencian dalam diri:

  1. Sering mengalami kejadian yang tidak enak berulang kali dari orang tersebut. Diserang, dipermalukan , diacuhkan, karena tidak berdaya.
  2. Benci karena berbeda, kemudian muncul rasa takut dan rasa tidak aman sehingga tumbuh prasangka dan sikap sentimen.
  3. Kurangnya self-compassion atau tidak menerima diri sendiri. Penuh dengan insecurity kemudian mencari kambing hitam dari masalah yang kita punya sendiri. Iri melihat orang lain wujud dari mekanisme pertahanan atas ketidaksempurnaan diri.
  4. Suatu kelompok membenci kelompok lain karena merasa identitas mereka terancam. Berawal dari memiliki identitas atau nilai yang bersebrangan.

Untuk menetralisir rasa benci agar sikap kita bisa lebih rasional ketika rasa tidak suka, marah, terluka terhadap sesuatu muncul:

  1. Mencintai diri sendiri membuat kita lebih nyaman dengan diri kita sendiri dan memudahkan kita untuk berpikir positif terhadap orang lain.
  2. Build comppasion (menghargai orang lain, terima perbedaan). Mengenal orang lain lebih dekat lagi sehingga kita bisa membuka pikiran tentang orang tersebut.
  3. Jika dua hal sebelum ini masih susah dilakukan, untuk sementara hindari orangnya. Jika kita menemukan sesuatu hal yang tidak kita suka dimana saja atau di sosial media lebih baik lewati saja, menghindar dari rasa benci yang masih susah dikontrol.
  4. Being mindfull, bertanya ke diri sendiri tentang kebencian yang muncul, kenapa bisa jadi gak suka? Kenapa bisa jadi benci? Sebesar apa kadar benci itu? Apa yang sudah dilakukan oleh dia terhadap kita? Dan apa yang sebaiknya kita lakukan untuk merespon rasa benci yang kita punya? Jangan sampai ternyata memang benar kita membenci tanpa alasan atau hanya being judmental saja lalu melakukan hal seharusnya tidak kita lakukan terhadap orang lain.
Share this :

One thought on “Terjebak Lingkaran Kebencian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top