Kalau ada teman kamu yang lagi kena masalah, biasanya kita sebagai pendengar pasti punya pandangan/pendapat sendiri saat mengetahui masalah tersebut. Terkadang kita merasa keputusan yang diambil teman kita itu salah dalam menanggapi masalahnya itu. Kita merasa tidak bisa memahami kenapa meraka melakukan perilaku/keputusan seperti itu. Hal itu terjadi karena kita dalam kondisi yang netral dan stabil sedangkan seseorang yang mengalami masalah dalam kondisi yang sensitif dan emosional. Kita tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi pada teman kita itu.

Contoh lain yang terjadi pada diri sendiri saat kita dalam keadaan lapar, keinginan untuk membeli makanan jadi meningkat atau sering kita bilang “Cuma nafsu doang”. Makanan yang kita lihat menjadi menghiurkan dan akhirnya kita membeli banyak sekali makanan. Akan tetapi yang terjadi setelah kita makan beberapa makannan yang kita beli, kita sudah merasa kenyang dan makanan lainnya jadi tidak termakan atau sering kita bilang mubazir.

Dua contoh diatas bisa terjadi karena adanya kesenjangan empati atau bahasa kerennya hot-cold emphaty gap. Loh apa sih hot-cold emphaty gap itu? Ada banyak pembahasan menarik yang aku kutip dari channel youtuber bernama Gita Savitri. Walaupun hal ini termasuk manusiawi akan tetapi akan lebih baik dan bijak jika kita mengetahuinya dan dapat mengkontrol diri kita jika sedang dalam mengalami kesenjangan empati.

Hot-cold Emphaty gap adalah suatu kognitif bias yang membuat kita meremehkan bagaimana preferensi kita bisa berubah tergantung dalam keadaan emosi seperti apa kita saat itu. Emosional state ada 2 yaitu Hot state dan Cold state. Cold state itu adalah keadaan dimana kita merasa dapat menguasai diri, merasa tenang, merasa rasional, stabil. Sedangkan Hot state adalah keadaan dimana kita merasa emosinonal, merasa sedih, marah, takut, bahkan lapar. Dimana jika kita berada pada kondisi cold state, akan sulit buat kita untuk membayangkan kalau diri kita lagi di hot state, dan juga sebaliknya.

Human cognition itu tergantung kondisi, bagaimana kita melihat suatu keadaan atau suatu kondisi, bagaimana kita memproses informasi, lalu bagaimana kita mengambil keputusan, itu tergantung dari keadaan mental kita saat itu. Efeknya pada diri sendiri adalah kita bisa membuat keputusan-keputusan yang kurang baik dan bijak. Sesuai dengan kalimat yang sudah banyak tersebar sebagai berikut.

Don’t promise when you’re happy

Don’t reply when you’re angry

Don’t decide when you’re sad

Kalau efeknya ke orang lain adalah kita jadi bisa judgemental terhadap reaksi orang lain dan kita bisa salah paham terhadap situasi orang lain. Gak jarang kita jadi heran melihat kelalukan orang lain dan bahkan bergumam kepada diri kita sendiri “gue gak bakal ngelakuin itu, kalau gue diposisi dia pasti gue bakal melakukan hal yang lain”. Sedangkan fakta kita tidak akan mengetahuinya karena bihavior seseorang atau respon seseorang terhadap sesuatu itu sangat bergantung dengan personal factors. Bahkan ke orang yang kita kenal dekat aja sesungguhnya kita tetap gak ngerti prosesnya kaya apa.

Bukankah lebih baik kita berempati terhadap keadaan seseorang yang terdampak terlebih dahulu, tidak langsung fokus ke apa yang harusnya dilakukan orang tersebut, “Harusnya gini, harusnya gitu, kalo gua jadi lo pasti gue gini”. Padahal tidak ada yang tau juga apakah benar bisa dan semudah itu orang yang judmental itu melakukan keputusan yang rasional ketika mengalaminya.

Being judmental dan misunderstanding bisa terjadi terhadap situasi orang lain, reaksi orang lain, atau devision orang lain, itu karena kita cenderung memproyeksikan apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan ke orang lain. Padahal semua hal itu selalu ada personal factor kan. Dan ketidaksadaran terhadap eksistensi personal factor ini yang membuat kita sulit berempati kepada orang lain, suka meremehkan bihavior orang lain, gampang bilang “ah lebay banget sih lo”, “ kalau gue sih gak mungkin kaya gitu” ke orang lain. Padahal kita juga masih sering salah memprediksi bagaimana kita akan berlaku pada saat momen hot state, bagaimana ke orang lain kan.

Dari sini kita bisa sedikit memahami tentang kesenjangan empati yang sering terjadi dan dialami oleh semua orang. Mencoba untuk lebih mendengar terlebih dahulu, mencoba untuk berusaha lebih memahami dan berhati-hati dalam menanggapi keadaan seseorang. Kita sering dengar “Lo gak bakal ngerti soalnya lo gak ngalamin”, ada benarnya. Tapi terkadang kita juga butuh pendapat orang lain, karena mereka dalam keadaan stabil dan netral. Pendapat mereka akan lebih rasional dan bisa membantu kita untuk berpikir lebih jernih lagi setelah berusaha mendengarnya terlebih dahulu. Kita semua bisa sama-sama berperan, ketika sudah merasa susah memahami satu sama lain lebih baik diam sejenak terlebih dahulu untuk mejernihkan pikiran dan kembali fokus on point lagi.

Share this :

2 thoughts on “Susah Memahami karena Kesenjangan Empati

  1. Thanks for your marvelous posting! I actually enjoyed reading it,
    you will be a great author.I will be sure to bookmark your blog and will eventually come back down the road.
    I want to encourage you continue your great posts, have a nice morning!

  2. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you design this website yourself or
    did you hire someone to do it for you? Plz reply as I’m looking to
    construct my own blog and would like to know where u got this from.

    thanks a lot

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top