SALINMAS merupakan program pemerintah daerah Kabupaten Banyumas yang masih dalam proses percobaan. Program ini secara garis besar untuk pengolahan sampah. Kebetulan daerah rumahku jadi daerah percontohan. Aku memiliki harapan besar pada program ini jika dijalankan dengan konsisten dan berkembang kedepannya. Karena program ini benar-benar butuh kerjasama yang solid antara warga dan pemerintah.

Disini aku akan menceritakan beberapa hal tentang program yang aku dapatkan dari daerah rumahku ini. Program SALINMAS menggunakan aplikasi android yang sudah terintegrasi. Aplikasi ini mempermudah untuk menjemput sampah dan menjual sampah. Akun yang terdaftar harus sudah terverifikasi oleh dinas lingkungan hidup. Sebagai daerah percontohan kami mendapatkan alat pengolahan sampah untuk segera diproses secara langsung. Beberapa jenis sampah yang dibeli pemerintah sudah dikategorikan beberapa yaitu, ecobrick, komposter, pakan maggot. Jadi setiap warga mengumpulkan dan memisahkan sampah yang akan dijual dan diolah terlebih dahulu. Sampah yang sudah dipisah dan dikumpulkan masing-masing rumah kemudian ditampung di tempat penampungan untuk pengolahan selanjutnya. Setelah sampah menjadi produk olahan yag sudah jadi kemudian dijual dengan harga yang sudah ditentukan per-itemnya.

Tiga pengelompokan olahan sampah cukup mudah dibuat dan dibutuhkan keuletan agar produk sampah olahan bisa digunakan dengan semestinya. Ecobrick dibuat dengan sampah plastik kemasan yang dipotong-potong dan dipadatkan didalam botol plastik. Pembuatan ecobrick akan mengurangi sampah plastik sampai pada pembuangan akhir. Karena ecobrick bisa digunakan kembali menjadi salah satu bahan bangunan atau furniture. Pakan magot dibuat dari sampah organik yaitu cacahan sisa makanan rumahan. Sisa sampah bahan masakan juga bisa digunakan, kuncinya disini sampah dalam keadaan sudah terpotong kecil agar mudah digiling menggunakan mesin giling. Budidaya magot itu sendiri akan dijadikan pakan alternatif pada peternakna dan perikanan. Hasil gilingan sampah organik tersebut bisa langsung digunakan untuk pakan magot. Sedangkan komposter juga menggunakan sampah organik, hanya saja berbeda cara pengolahannya dengan pakan magot. Untuk komposter butuh proses yang lebih lama karena sampah organik harus direndam beberapa hari dengan campuran bioaktivator. Hasil dari produk komposter sudah jelas untuk pupuk kompos budidaya tanaman.

Beberapa bulan program ini berjalan, prosesnya cukup konsisten dan efeknya terlihat. Warga yang berperan aktif cukup banyak dan perlahan menjadi sebuah kebiasaaan yang sangat positif. Program ini mewakili 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) yang merupakan salah satu sistem kepedulian terhadap lingkungan berfokus pada sampah. Pembentukan kesadaran akan kepedulian terhadap lingkungan harus secara konsisten diwujudkan dengan gerakan nyata. Jika edukasi yang diberikan cukup baik dan proses teratur akan menjadi kebiasaan positif bagi semua warga. Semoga program ini berjalan lancar mewujudkan tujuan yang sangat mulia.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top