Beberapa waktu belakangan ini politik Indonesia emang lagi panas-panasnya karena pemilu. Rame di sosial media dan platform berita itu udah pasti banget terjadi, munculah pikiran-pikiran abstrak aku tentang Indonesia. Perlu ditekan kan bahwa pikiran abstrak ini berasal dari warga awam bukan seorang ahli segala bidang. Makanya aku bilang abstrak karena super random dan hanya opini atau asumsi aja. Aku sangat menghargai pandangan-pandangan orang yang berbeda-beda dalam menanggapi segala kejadian yang terjadi di negara kita ini. Aku salah salah satu keberagaman dalam berpikir itu.

Warga negara Indonesia bermimpi akan kesejahteraan yang adil dan merata. Dalam aspek kehidupan berbangsa dan bernegara terdiri dari banyak bidang yang memiliki tujuan pencapaian tentunya. Semua bidang ini sebenarnya memiliki koneksi dan pengaruh satu sama lain. Itu semua tugas besar warga negara Indonesia dan semua komponen kenegaraan. Secara garis besar yang dirasakan langsung oleh warga, kesejahteraan identik dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak, harga bahan baku murah, pelayanan pendidikan dan kesehatan mudah dan murah. Tapi apakah semua itu tanggung jawab penuh pemerintah untuk memberi subsidi agar bisa membuktikan bahwa negara ini sejahtera? Sedangkan urusan kenegaraan tak sesimple itu, karna ada banyak sekali kementerian untuk memikirkan berbagai hal yang ada di Indonesia ini. Setiap tujuan memiliki resiko dan dampak, sangat mungkin terjadi hal yang di prioritaskan bisa terwujud tapi akan mengorbankan beberapa aspek lain.

Meningkatkannya jumlah pengangguran di Indonesia menjadi salahsatu barometer yang banyak dikritisi. Penyebabnya bisa dari mana aja, ada yang melihat karena terlalu banyak tenaga kerja asing yang masuk. Tapi banyak juga yang merasa kesusahan mencari tenaga kerja di Indonesia yang memenuhi kualifikasi untuk jenis pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah SDM Indonesia banyak yang tidak memiliki kualifikasi untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja yang ada sekarang? Bisa jadi karena sistem Pendidikan yang belum memenuhi sampai menghasilkan SDM-SDM yang unggul. Hal ini menarik untuk lebih didalami sebenarnya. Solusi mengurangi pengangguran bukan hanya tentang membuka lowongan-lowongan kerja sebanyak-banyaknya tapi kualitas SDM juga harus menjadi komponen penting. Mendukung pengusaha-pengusaha kecil juga mungkin bisa menjadi salah satu solusi. Dunia usaha tidak sebatas mampu membuka bisnis lalu akan menambah lowongan pekerjaan, Bisnis yang berkualitas bisa bertahan dan berkembang kedepannya. Sehingga bisa ikut menyumbang dalam mewujudkan peningkatan kesejahteraan bangsa.

Bahan baku murah adalah keinginan kebanyakan konsumen. Bahan baku yang dimaksud sangat bermacam-macam, ada makanan, bahan bakar, listrik, dan masih banyak lagi. Kalau makanan yang rame dibahas pas pemilu tahun ini itu soal harga yang tidak stabil dan impor berlebihan. Kalau untuk kebutuhan impor aku sebenernya kurang memahami pastinya apa yang terjadi di kementerian-kementerian terkait dengan data yang tidak sinkron. Untuk kestabilan harga ini langsung menyentuh ke elemn masyarakat. Dan memiliki perpektif yang berbeda pada konsumen dan produsen itu sendiri, harus menentukan dimana rakyat sebagai konsumen bisa memenuhi kebutuhannya dan rakyat sebagai produsen juga menikmati keuntungan yang semestinya. Bahan bakar, listrik dan energi juga termasuk kebutuhan masyarakat yang terus meningkat seiring berjalannya waktu, sedangkan semua itu memiliki komponen bahan dari alam. Indonesia memang kaya akan Sumber Daya Alam, tetapi sangat perlu dipikirkan untuk relokasi , normalisasi, agar sumber daya ini tidak habis begitu cepat karna kebutuhan yang terus meningkat. Kepedulian kepada lingkungan di Indonesia masih sangat minim, karna lebih banyak yang mengutamakan kebutuhan terpenuhi, untung dalam sektor penjualan. Gerakan cinta lingkungan juga masih dari segelintir kelompok yang sudah memahami sepenuhnya akan keadaan.

Isu-isu sosial di Indonesia terlihat minim sekali solusi. Banyak sekali kasus-kasus sosial yang tidak berujung solusi untuk mengurangi terjadinya isu negatif, akan tetapi fokus dengan tindakan kepada pelaku atau korban setelah kejadian. Pesatnya perkembangan digital menjadi salah satu yang memberi dampak pada isu-isu kontroversial. Perlu penanganan khusus dan jangka panjang untuk mengatasi isu-isu seeprti bullying, pelecehan, intoleran, kebebasan berkespresi, hoax, penistaan, terorisme, kekerasan, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, dan masih banyak lagi. Di Indonesia banyak sekali stereotip-stereotip yang terbentuk dan mengakibatkan banyak nya kasus-kasus yang tadi disebutkan. Membenarkan yang mayoritas dan menindas yang minoritas. Membenarkan sepenuhnya keyakinan dalam diri dan menyalahkan yang berbeda. Bahkan sampai hal kecil tentang perbedaan pandangan atau pilihan seperti sudah ada aturan yang tertanam. Yang terjadi malah penegakan Hukum dan HAM yang tidak adil dan tidak terlaksana dengan baik. Budaya korupsi dan manipulasi uang yang dianggap wajar dari kasus kecil hingga kasus besar.

Kemudahan menggunakan media untuk saling ribut karena berbeda pandaangan menjadikan Indonesia terpecah. Bagaimana cara menghargai perbedaan yang seharusnya menjadi jati diri Bhineka Tunggal Ika? Ketika kegaduhan semakin mengerikan, Ingin rasanya perdamaian dengan bangsa sendiri kembali dijunjung tinggi.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top