Setiap orang memiliki selera atau preferensi yang beragam dalam hal apapun. Selera bersifat subjektif dan akan mencapai kebuntuan jika mencari selera seperti apa yang terbaik. Banyak orang secara tidak sadar sering memperdebatkan selera yang berbeda dan menganggap selera sendiri yang paling oke. Dan akhirnya perdebatan tidak berujung malah menciptakan suasanya menjadi tidak nyaman.
Selera yang terlalu subjektif memang tidak memiliki standar atau kalkulasi yang dapat dibandingkan. Terus kenapa selera masih sering menjadi perdebatan? Karena sifat dasar manusia yang diffensive dimana mempertahankan harga diri bahwa preferensi yang dimiliki tidak bisa dilukai oleh prefensi lain yang juga mempunyai power yang sama. Apalagi jika terjadi memojokan selera yang tidak umum atau unik atau aneh akan menjadi bahan menyenangkan untuk diserang.
Debat selera yang sering aku alami adalah berdebat soal aku yang gak doyan duren. Yap bener banget duren, yang katanya dijuluki raja buah tapi aku gak doyan. Dan karena ini juga aku jadi punya ide buat bikin tulisan ini. Eh setelah aku perhatiin ternyata banyak juga selera yang menjadi topik saling serang terjadi. Memiliki selera yang gak umum seolah mendapatkan label keanehan yang bener-bener nyata. Aku sendiri sebagai pelaku selera minoritas gak ngerti kenapa bisa punya selera yang gak umum. Dari hal sederhana gini juga membuatku memahami hal ekstrim tentang penindasan kaum mayoritas terhadap kaum minoritas. Selera seolah terkelompok menjadi beberapa tingkatan berdasarkan banyaknya pemilik preferennsi dan berdasarkkan strata sosial.
Ada banyak jenis selera yang sering jadi keributan yaitu, makanan, pakaian, desain, musik, film, idola, sampai perihal selera ketertarikan. Saat adu selera awalnya gak nyadar masih bertahan dengan pandangan masing-masing. Padahal udah tau gak bakal ada ujungnya tetep aja dilanjutin sampe cape sendiri baru berhenti. Bukan karena mencapai kesimpulan yang bisa diterima tapi karena udah sadar kalau tolok ukur penilaian yang tidak akan bertemu. Maka dari itu setiap kompetisi biasanya juri lebih dari satu dan dari background yang berbeda agar penilaian menjadi balance tidak berat selera. Kita akan merasa susah menghindar dari perdebatan selera yg gak disengaja. Tapi kita bisa menahan untuk tidak merendahkan selera orang lain.
Biarkan secara alami selera menjadi ladang konsumen. Beragamnya selera menjadikan sebuah kesempatan menciptakan pasar untuk pebisnis yang mempertimbangkannya. Yaa begitulah kadang keributan justru bisa dimanfaatkan jika jeli dengan peluang.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top