Mutiara dalam lumpur hanya sebuah kiasan, ini hanyalah sebuah kisah seorang anak desa yang memiliki mimpi besar.

Saat itu saya sedang melakukan pengabdian masyarakat di sebuah desa, desa yang tidak lama telah terjadi bencana longsor. Saya ceritakan dulu kondisi desa tersebut. Desa ini terletak di perbukitan dan jauh dari perkotaan. Pada saat musim kemarau terjadi kekeringan, pada saat musim hujan rawan terjadi longsor. Masalah sanitasi di desa ini masih sangat kolot. Mayoritas warganya bekerja sebagai tukang kebun. Orientasi pendidikan yang masih sangat rendah dimana sekolah dianggap tidak terlalu penting. Anak perempuan lulus SMP banyak yang langsung memilih untuk menikah saja. Masih banyak anak yang berorientasi pendek tentang masa depannya. Masih ada masalah kekerasan yang terjadi, bahkan pelakunya adalah anak kecil. Suasana desa dengan warga-warga yang ramah masih sangat kental. Mungkin itu sebagian kecil gambaran desa tersebut.

Saat itu banyak anak-anak yang sengaja datang ke posko tempat saya menginap untuk belajar. Mereka senang kalau ada tamu datang ke desa mereka. Perbedaan yang sangat terlihat yaitu antara anak yang sekolah di desa dan anak yang sekolah di kota, terlihat perkembangan pola pikir dan tingkat akademik pada anak yang sekolah di kota lebih tinggi. Ketika saya dan teman-teman datang di sebuah rumah sehabis sholat magrib dirumahnya tersebut rutin diadakan belajar ngaji untuk anak-anak, kami membantu mengajarkan ngaji dan mencoba untuk berkenalan lebih dalam kepada anak-anak yang mengikuti. Ada salah satu anak yang menangis ketika dia bercerita tentang dirinya. Dia bercerita bahwa dia memiliki mimpi ingin menjadi ahli nuklir, akan tetapi dia mengalami penindasan oleh teman-temannya. Banyak teman-temannya yang selalu mengejeknya karena dia memiliki mimpi yang terlalu tinggi, mereka bilang tidak mungkin karena dia anak seorang tukang kebun. Bahkan dia mengalami bullying  yang cukup keras. Akan tetapi dia mempunyai tekad dan keyakinan yang tinggi. Gurunya selalu mendukung karena dia termasuk salah satu yang terbaik di sekolahnya. Mimpi besar itu “ingin menjadi ahli nuklir” muncul karena dia melihat acara di televisi bahwa ada seorang anak yang tidak mampu dan bisa menjadi sukses dengan karirnya sebagai ahli nuklir. Sebenarnya dia tidak tau sama sekali mengenai ahli nuklir itu apa, akan tetapi karena melihat acara televisi tersebut dia termotivasi untuk bermimpi dan ingin sekali membuktikan kepada orang-orang yang selalu meremehkan bahwa dia itu bisa. Mendengar ceritanya saya dan teman-teman saya terenyuh sekali karena ada seorang anak kelas 2 SMP yang memiliki semangat dan tekad yang kuat dengan mimpi besarnya dalam keadaan finansial yang kurang dan dilingkungan yang seperti itu. Dalam umur yang masih sangat muda itu dia sudah banyak melewati kerasnya hidup.

Sekejab kisah ini membuka mata saya lebih lebar lagi, membuka pikiran saya lebih luas lagi mengenai kehidupan. Bahwa kita hidup di dunia tidak memilih di keluarga yang seperti apa, tidak memilih di lingkungan yang seperti apa, tapi bagaimana kita survive di dunia. Masih banyak anak-anak yang terlahir kurang beruntung. Masih banyak anak-anak yang membutuhkan dukungan dalam segala aspek untuk masa depannya. Masih banyak mimpi-mimpi besar yang bisa diraih oleh semua anak. Semua anak memiliki kesempatan untuk meraih mimpi-mimpi besar. Masih banyak yang yang berorientasi pendek tentang hidup. Sedangkan semua hal di dunia ini mungkin terjadi. Apa yang harus dilakukan? Sejenak melihat fokus ke depan dan tentukan tujuan, lalu Mulailah melangkah sekarang!

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top