Decision fatigue itu berarti terlalu banyak pilihan akan membuat kapasitas otak untuk memutuskan malah semakin tergerus. Atau kata lainnya paradox of choices yang berarti terlalu banyak pilihan justru akan mengakibatkan kelelahan mental. Studi-studi menunjukkan decision fatigue juga bisa membuat keuletan atau daya resiliensi menurun. Yang mengejutkan decision fatigue karena keputusan kecil atau simpel sama dampaknya terhadap otak. Hal-hal kecil yang secara tak sadar membuat decision fatigue dan akhirnya bikin otak makin tulalit yaitu bingung; mau makan ap; mau makan dimana; mau pergi kemana; mau pakai baju apa; mau lewat mana; kapan mau ngerjain sesuatu.

Tapi mungkin gak semua orang mengalaminya. Kalau contoh kasus yang terjadi pada diri sendiri, aku cukup sering mengalami decision fatigue. Yang paling sering itu kalo ditanya mau makan apa, otak aku bekerja lebih keras dibanding dengan memecahkan rumus. Terkesan berlebihan memang, tapi yang aku alami memang selalu bingung jika mendapat pertanyaan itu. Apalagi keputusan itu berhubungan dengan orang lain, maksudnya bukan untuk diri sendiri aja. Karena dalam hal memutuskan sesuatu untuk diri sendiri khususnya hal-hal kecil, aku termasuknya gak pikir panjang karena lebih sering setuju-setuju aja dengan keputusan yang akhirnya diambil dan jarang sekali merasa kecewa karena keputusan yang sudah diambil. Ketika mengalami kebingungan hal yang dipikirkan hanya “terserah”. Jika aku terlalu sering mengucapkan “terserah”, aku bakal ditembak dengan stereotype andalan banget cewek ngomong terserah itu bingungin cowok tau. Sebenernya hal-hal kaya gini gak bisa di generalisasikan, karena contoh lain temen aku kalo masalah memutuskan hal yang sulit aku putusin, dia bisa cepet banget dan langsung disepakati bersama loh.

Keputusan-keputusan kecil yang annoying bakal berujung ucapan “terserah”. Kalo dipikir-pikir ternyata sebenernya butuh penyempitan pilihan aja. Pasti kesel deh kalo ditanya terus jawabanya terserah, abis itu ditanyain lagi “gimana kalo ini” eh jawabanya gak mau. Itu ada dua kemungkinan, udah punya pilihan tapi udah tau bakal ditolak dan emang bingung tapi butuh penyempitan pilihan aja biar lebih gampang aja memutuskannya. Faktor memutuskan hal yang berhubungan dengan orang lain emang punya tingkat pertimbangan lebih tinggi, karena gak bisa menjunjung tinggi keegoisan. Salah satu faktor yang bisa membentuk kebingungan saat memutuskan hal-hal kecil, karena sebelumnya setiap mencoba untuk memustuskan tapi keputusan tersebut tidak dihargai atau ditolak terus dan akhirnya membentuk mindset “percuma saja kalau aku mengeluarkan pendapat kalau ujung-ujungnya juga pendapatku sia-sia”. Pembentukan seperti itu benar-benar membuat orang menjadi tidak percaya diri kemudian berakhir malas speak up.

Tulisan ini mungkin menjadi salah satu alternatif pandangan lain mengenai pamaknaan kata “Terserah” yang tersebar di search engine mainstream. Bagi yang mengalaminya bisa diambil maknanya dan mencari solusi yang cocok pada diri masing-masing untuk mengurangi decision fatigue.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top